Teori
Kesulitan belajar membaca sering disebut disleksia (dyslexia ). Istilah disleksia berasl dari bahasa Yunani yaitu “dys” yang berarti sulit dalam dan “lex” berasal dari legein yang berarti berbicara. Menderita disleksia berarti menderita kesulitan yang berhubungan dengan kata symbol – symbol tulis atau “kesulitan membaca”. Terdapat beberapa pengertian disleksia yang dikemukakan oleh para ahli seperti berikut :
a. Disleksia pengmerujuk pada anak yang tidak dapat membaca sekalipun penglihatan , pendengaran, intelegensi normal dan keterampilan usia bahasanya sesuai. Kesulitan belajar tersebut akibat factor neurologis dan tidak dapat diatributkan pada factor kedua, misalnya lingkungan atau sebab social ( Corsini, 1987 )
b. Disleksia sebagai kesulitan membaca berat pada anak yang berintelegensi normal dan bermotivasi cukup, berlatar belakang budaya yang memadai dan berkesempatan memperoleh pendidikan serta tidak bermasalah emosional ( Guszak, 1985 )
c. Disleksia adalah suatu bentuk kesulitan dalam mempelajari komponen – komponen hiamat, yang secara historis menunjukkan perkembangan bahasa lambat dan hampir selalu bermasalah dalam menulis dan megeja serta kesulitan dalam mempelajari system represensional misalnya berkenaan dengan waktu, arah, dan masa ( Bryan& Bryan dikutif Mercer, 1987 )
Jadi pengertian disleksia adalah kondisi kesulitan belajar membaca taraf berat yang disebabkan oleh factor neurologis, genetika, dan osikologis dasar, serta sering menunjukkan kesulitan dalam mengsosiasikan antara bentuk huruf dan bayinya dan mereka sering terbalik atau kebingungan terhadap huruf – huruf tertentu, tetapi mereka memiliki kecerdasan rata – rata / normal bahkan ada ada di atas rata – rata
Ciri – ciri anak yang mengalami kesulitan membaca ( disleksia )
Anak kesulitan membaca sering memperhatikan kebiasaan membaca yang tidak wajar. Mereka sering memperlihatkan adanya gerakan – gerakan yang penuh ketegangan, seperti mengernyitkan kering, gelisah, irama suara meninggi atau menggigit bibir. Mereka juga sering memperlihatkan adanya perasaan tidak aman yang ditandai dengan perilaku menolak untuk membaca, menangis, atau nmencoba melawan guru. Anak kesulitan belajar membaca juga sering memegang buku bacaan yang terlalu menyimpang dari kebiasaan anak normal, yaitu jarak antara mata dan buku bacaan kurang dari 15 inci ( kurang lebih 37,5cm ). Selain itu juga anak yang mengalami kesulitan membaca lamban, turun naik intonasinya, dan kata demi kata, sering membalikan huruf – huruf dan kata – kata, mengubah huruf pada kata, sering membalikan huruf – huruf dan kata – kata, mengubah huruf pada kata, kacau terhadap kata – kata yang hany sedikit berbeda susunannya misalnya : bau, buah, batu dan lain sebagainya, mengabaikan tanda baca, dan mengganti satu kata lain, meskipun kata yang digantikan tidak mempunyai arti dalam konteksnya.
No comments:
Post a Comment